Akhirnya Laparoscopy…

Alhamdulilah, akhirnya tanggal 8 Maret minggu kemarin aku laparoscopy di RS. Bunda Menteng dengan Dr. Irham dan Dr. Ivan.

And for those who looking for some information about laparoscopy, i’ll try to write down  here about laparoscopy based on my experience. Disclaimer: It’s gonna be a loooong post 🙂

Laparoscopy intinya adalah tindakan bedah minimal untuk beberapa macam kondisi seperti kista endometriosis, mioma uteri, dll. Kalo aku sendiri alasan untuk laparoscopy adalah pertama: untuk mengambil kista endo (yang menurut dokter sebenernya ‘belum’ terlalu matters karena masih berukuran kecil, kurang lebih 1 cm) dan kedua: untuk diagnosis  hal2 lain yang mungkin ga keliatan lewat USG. Untuk alasan yang kedua biasanya disarankan bagi pasangan dengan kasus unexplained infertility dimana  suami dan istri sebenarnya dalam kondisi baik yang memungkinkan terjadi pembuahan namun untuk waktu yang lama ternyata pembuahan itu belum juga terjadi. Well, dengan dua alasan tersebut akhirnya aku dengan dukungan penuh dari suami berhasil memantapkan hati untuk melakukan laparoscopy 🙂

Sebenarnya di RS. Bunda ada One Day Care (ODC) untuk laparoscopy, jadi pasien datang jam 00.00 WIB, lalu pagi harinya dilakukan tindakan laparoscopy, dan sorenya di hari yang sama bisa langsung pulang sehingga pasti biayanya jauh lebih murah.

Berhubung aku ga mau repot datang pagi2 buta dan karena biayanya ditanggung sama kantor (alhamdulilaah..) akhirnya aku datang ke Bunda hari kamis setelah pulang kantor. Begitu datang langsung ke bagian pendaftaran pasien, diminta buat ngisi data macem2 trus dibawa ke satu ruangan buat diukur tensi dan ambil darah untuk tes hematologi. Setelah semuanya selesai bisa langsung masuk kamar dan kebetulan aku dapat kamar utama seperti permintaanku.

Ehiya. Ada beberapa hal yang penting untuk dipersiapkan sebelum laparoscopy:

  1. Mengingat biayanya yang ga sedikit, pikirkan cara pembayarannya. Berhubung biayaku ditanggung oleh kantor maka sebelumnya aku minta surat pengantar dari dokter (yang menjelaskan bahwa perlu dilakukan tindakan laparoskopi) untuk ngurus surat jaminan dari kantor. Kalo misalnya ditanggung asuransi, perhatikan klausul untuk klaimnya apakah laparoscopy termasuk yang dicover oleh asuransi itu.
  2. Sehari sebelum laparoscopy, aku ditelpon sama pihak RS. Bunda yang ngasih tahu kalo aku sebaiknya hari itu makan makanan yang tidak mengandung serat, ga boleh buah, sayur, daging, ayam, dll. Untuk telur dan ikan masih boleh. Nasi sebaiknya bubur saja. Roti sebaiknya roti tawar, biscuit juga yang plain saja seperti regal.
  3. Untuk tindakan laparoscopy di RS. Bunda ga bisa pesen kamar, hanya bisa dapat kamar per kedatangan dan sesuai ketersediaan.

Oke. Ngelanjutin cerita yang tadi, setelah dapat kamar aku ya ke kamar doong hihihi.. Kamar utamanya lumayan kok, ada bed tambahan buat yang nunggu pasien. Lain kali foto kamarnya ku-upload disini soalnya belum sempat mindahin dari HP.

Rencana laparoscopy-ku jumat pagi jam 6 jadi aku harus puasa dari hari kamis jam 10 malem. Jam setengah 10 dikasih cairan obat pencahar yang harus diminum. Ya ampyuun rasanya asiiiiin banget, kayak minum air pake garem 10 kg. Pweh! Setelah susah payah ngabisinnya, bukannya perut yang jadi mules eh aku jadi mual dan muntah berkali2. Obatnya keluar semua sebelum sempat bekerja huhuhu.. Jam 11 malem suster datang buat ngecek dan nanya, “Udah pup berapa kali?” Aku jawab, “Beluuum” dan susternya langsung shock hihihi.. Akhirnya dikasih obat pencahar yang dimasukin lewat an*s, dua sekaligus! Mwahaha..

Jam setengah 5 bangun, mandi, sholat, trus suster dateng buat skin test. Aku udah ngeri ngebayangin sakitnya karena kalo baca dari pengalaman orang2 lain katanya skin test itu disuntiknya dijaringan di bawah kulit jadinya sakiiiit banget. Tapi alhamdulilah ternyata sakitnya cuma sebentar aja kok dan masih tolerable.

Habis skin test dibawa ke ruang persiapan, disitu dipasang infus. Berhubung pembuluh darahku katanya kecil banget akhirnya baru bisa terpasang di suntikan ketiga setelah pake jarum bayi dan duet maut dua suster. Jam setengah 7an dibawa masuk ke ruang operasi yang dingiiiin dan dokter anestesi ngasih suntikan di infus sambil ngajakin aku ngobrol dan tiba2 aku sadar udah jam setengah 12 di ruang pemulihan pake selimut hangat  🙂

Kalo katanya suami sih, proses operasinya dari jam 7 sampe jam 9. Jam 12 dibawa kembali ke kamar. Setelah diperiksa dokter jaga, katanya ususku sudah beraktivitas jadi boleh langsung minum dikit2 tanpa perlu nunggu kentut. Jam 2 boleh makan bubur sumsum. Jadi aku ga ngerasain sama sekali puasa setelah operasi sambil nunggu kentut hihi.. Ga ngerasain juga yang namanya badan sakit semua, mual dan pusing setelah operasi. Alhamdulilah..

Seharian itu aku cuma tiduran aja, pipisnya pake kateter, makan minum disuapin suami 🙂 Hari sabtu pagi kateter sama infus dilepas. Udah boleh duduk dan latihan jalan. Udah boleh makan nasi. Jam 12 Dr. Irham datang dan bilang aku udah boleh pulang. Alhamdulilah.. Tapi nunggu proses administrasi pembayarannya lamaaa.. Habis magrib baru bisa pulang. Total biaya laparoscopy di RS. Bunda dengan kamar utama kurang lebih Rp37juta.

Jadi ya gitu deh.. Setelah operasi boleh makan apa aja, ga ada pantangan, makan yang banyak biar cepet sembuh gitu kata Dr. Irham. Rasa nyeri yang sampe sakit banget ga ada kok, cuma kaku2 aja. Sekarang jalannya masih pelan2, belum bisa gedabrukan, take everything slowly.

Hari ini hari ke 7 setelah operasi dan aku udah masuk kantor padahal seharusnya masih bisa cuti sampe senin depan. Habis ga enak ah cuti kelamaan. Sok rajin hihihi.. Nanti sore jadwal kontrol ke Dr. Irham, jadi nanti mau sekalian nanya proses dan hasil laparoscopy-nya 🙂

Dan buat temen2 yang mungkin mengalami permasalahan yang sama, semoga sharingku ini berguna dan mengurangi kekhawatiran serta keragu2an untuk melakukan laparoscopy 🙂

Untuk hasilnya? Biar Allah yang memutuskan. Semoga semua ikhtiar ini menjadi pembuka rizki buatku dan suami untuk segera memiliki buah hati. Aamiin 🙂

Blog at WordPress.com.

Up ↑